oya…semuanya mohon maaf lahir dan batin yah….
ramadhan dan lebaran tahun ini sangat berkesan bagi gw dan cowo gw..banyak pelajaran baru yang kita dapat. lebaran ini, untuk pertama kalinya cowo gw berkunjung ke tempat kakek gw di pamengpeuk garut (ga semua orang bisa melafalkan nama daerah ini dengan baik, hehehehhe).. sebelumnya cowo gw, mas anggri mengurus urusan visanya di jakarta sehubungan dengan keberangkatannya ke austria yang tidak lama lagi (hiks hiks gw pasti sedih banget). mas berangkat ke jakarta 2 hari sebelum keberangkatan gw.
semua berjalan baik-baik saja awalnya. mas masih sehat-sehat aja..
hari 1st : Kita shopping, seharian puasa2 muter mall (ITC BSD siy sebenarnya). Siang2 gw ma cowo gw jalan2 bedua. trus sorenya ma keluarga, mbeliin hp baru buat adik gigin (hp barunya nyamain hp cowo gw, aslinya gw juga kepengen banget hpnya!!!!).
hari 2nd : Kita sekeluarga, mama, papa, gw, adik, mas anggri jalan2 ke mall (WTC BSD). penuuuuuuuhhhh banget, maklum lebaran..biasa sebelum keberangkatan ke garut nyokap slalu belanja besar2n di Hypermart…trus kita buka puasa di RM Ampera bandung cabang BSD. enak..sunda benget…nah disini cowo gw mulai sakit pusing awalnya…malamnya badan demam.
hari 3rd jam 2.00 : kita berangkat ke garut..gila pagi banget. gw aja susah bangunnya. selama perjalanan cowo gw sempet nyetir mobil slama 3 jam, sampai pemberhentian tol pertama untuk sholat subuh. nah, demam dan pusing mulai melanda tubuh mas anggri…trrrrrruuuuuuuuuussssssss sampe tiba di kampung halaman.
di pamengpeuk (PMPK) mas baik-baik saja, mancing ikan gurameh bawal nila, lebaran, piknik ke pantai, sampe akhirnya kita check out menuju jogja. ada siy pusing dan demam terkadang, dan selalu datang malam hari…sampai di jogja mas di check di rumah sakit dan ternyata dy positif TIFUS……
penyakit biasa dan normal siy,,,tapi masalahnya akhir bulan ini dy mw ke luar negri, gw kawatir aja dy belom sembuh total…browsinglah gw tentang penyakit satu ini. penyakit yang disebabkan karena pola makan yang tidak teratur dan kecapekan. dan itu mas anggri banget!!
mas anggri panas cuma 3 malam yang betul-betul > 39 drajat dan hanya 6 hari di Rumah sakit (insyaallah sekarang pulang). Dy tipus ato bukan??? kata dokter dan lab dy tipus, tapi kok panasnya ga nyampe 1-2 minggu ya..
WhAteVeR deyh ya… yang penting cintaku yang malang ini sudah kembali sehat dan dapat pulang kerumah lagi…
Menurut Prof. Dr. Iwan Darmansyah, SpFK “Widal Positif Belum Tentu Tifus”
Bila musim sedang berganti di Indonesia, terutama di kota-kota besar, sering ditemukan penyakit tifus yang
merupakan penyakit usus halus. Penyebabnya beberapa tipe kuman Salmonella typhi.
Kuman tifus terutama dibawa oleh air dan makanan yang tercemar, karena sumber air minum di Jakarta,
umpamanya, kurang memenuhi syarat. Sayuran dapat saja dicuci dengan air kali yang juga dipakai untuk
penampungan limbah. Kakus pun berakhir di got atau kali. Padahal kuman tifus berasal dari kotoran manusia
yang sedang sakit tifus. Karena kota-kota besar merupakan kakus terbuka raksasa, maka kuman tifus pun
berada dalam banyak minuman dan makanan yang lolosoleh proses memasak.
menelan kuman tifus ! ( mungkin cowo gw makan sembarangan waktu di jakarta..hehehe)
Bila hanya sedikit kuman yang terminum, biasanya orang tidak terkena tifus. Namun, kuman yang sedikit demi
sedikit masuk ke tubuh menimbulkan suatu reaksi imun yang dapat dipantau dari darah; dikenal dengan reaksi
Widal yang positif. Seseorang di Indonesia yang mempunyai reaksi Widal positif, belum berarti sakit tifus.
Tapi bila reaksi Widal positif ini terjadi seumpama di Swiss, dan orang itu tidak pernah makan di pinggir
jalan Jakarta serta tidak pernah diberi vaksin tifus, maka kemungkinan ia benar menderita tifus.
Di negara maju sistem pembuangan limbah disalurkan melalui pipa-pipa tertutup sehingga tidak bercampur
dengan kotoran manusia.
Tanda-tanda klinis penderita harus lebih diutamakan daripada reaksi Widal yang positif. Mengapa ?
Karena hampir semua orang di Indonesia mempunyai reaksi Widal positif tanpa sakit tifus.
Penderita tifus mulai demam rendah (subfebril) malam hari, hilang esoknya, terulang lagi malamnya,
menjadi makin hari makin tinggi. Mulainya malam saja, kemudian siang juga.
Tifus tidak pernah mulai dengan demam tinggi pada hari pertama sampai ketiga.
Bila demam terus berlanjut dan pada hari ke 5 - 6 menjadi lebih tinggi,
maka barulah tiba waktunya untuk memeriksa Widal dan melakukan pembiakan kuman dari darah.
Hasil pembiakan kuman tifus yang positif merupakan bukti pasti adanya tifus. Hasil kultur kuman ini baru
diketahui sesudah satu minggu.
Angka reaksi Widal sendiri tidak ada artinya, karena naiknya suhu yang khas, perlahan,
sampai tercapai suhu tinggi sesudah 5 - 6 hari merupakan simtom yang lebih penting untuk
menduga adanya tifus. Demam tinggi yang terjadi sampai 4 - 5 hari, tanpa tanda-tanda infeksi
kuman yang jelas, lebih dari 90% kemungkinannya ialah
infeksi oleh virus, yang tidak perlu diberi antibiotika.
Berbeda dengan diet zaman dulu, kini tifus tidak memerlukan diet bubur yang ketat;
nasi agak lembek sudah cukup. Daging, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sedikit sayur,
dan buah boleh saja. Namun, yang pedas dan keras seperti kacang sebaiknya dihindarkan.
Yang lebih penting ialah istirahat (tidur terlentang) sepanjang hari, sampai panas turun selama beberapa hari.
Bila dirawat di rumah ia masih diperbolehkan berdiri dan jalan perlahan hanya satu kali sehari untuk buang hajat.
Kencing dilakukan di tempat tidur saja. Suhu perlu dicatat empat kali sehari untuk ditunjukkan
pada dokter yang merawat. Namun, penderita dilarang pergi ke tempat praktek dokter.
Banyak pergerakan menyebabkan suhu naik lagi, karena kuman terlepas dari tempat perkembangannya
di usus masuk ke dalam darah. Pergerakan banyak juga menimbulkan risiko usus pecah pada minggu ke 3 - 4.
Dengan perawatan ini dan obat antitifus yang khusus, demam baru akan turun dalam 4 - 8 hari.
Bila panas sudah turun dalam 1 - 2 hari setelah pengobatan, kemungkinan bukan tifus yang diderita.